Minggu, 19 Oktober 2014

Bukan Tentang yang Tua yang Mengalah dan yang Muda yg Menerima Nasihat.

Siapa yang harus mengalah dan siapa yang harus diberi nasihat ?
Pertanyaan ini terlintas ketika ibu saya meminta saya menukar telur dadar dengan telur ceplok milik mas saya yang sedang sakit. Rasanya saya bisa meminta mas untuk mengalah karena saya seorang adik, tapi saya tidak ingin karena situasi yang mengharuskan saya untuk mengalah. Entah bagaimana dulu orang tua saya mendidik saya, yang jelas saya sangat bersyukur dengan apa yang mereka ajarkan kepada saya.
Biasanya mereka mengajari anak yang lebih tua selalu mengalah pada yang lebih muda, dan yang lebih muda harus menuruti apa yang dibilang oleh anak yang lebih tua. Saya jadi berfikir ini bukan tentang mengajarkan untuk mengalah terhadap adik, tapi ini akan menanamkan sikap pengecut pada diri kakak karena dia harus terus mengalah dan menanamkan sifat egois bagi adik. Begitu juga dengan memberi nasihat, seharusnya tidak selalu kakak yang harus memberi nasihat dan adik yang diberi nasihat. Karena dengan ini akan menimbulkan kesombongan kakak sehingga bisa saja dia merasa gengsi untuk menerima saran dari sang adik. Dan adik juga akan selalu bergantung pada nasehat kakak.
Seharusnya tidak ada kata selalu, karena kondisi akan menentukan siapa yang seharusnya mengalah dan siapa yang seharusnya di beri nasehat.
Mungkin inilah yang diajarkan orang tua saya kepada saya. Karena antara saya dan mas tidak ada yang selalu mengalah dan selalu diberi nasihat, semuanya sama. Pada kondisi tertentu saya harus mengalah dan begitu juga mas yang akan saya beri saran. Dan saya kagum dengan mas, dia tidak pernah meremehkan saran saya, dia akan menerima dan mempertimbangkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar